Saturday, 9 November 2019

A Short Story #2 : Kenangan

"Bisakah kau mencintai aku saja?" Tanyanya sambil menyeka air mata. Apa yang sudah aku lakukan sampai dia menangis seperti ini. Aku ingin sekali bisa mencintainya, tapi itu melukai diriku sendiri.
Lelaki macam apa aku yang tidak bisa memberikan jawaban yang bisa menenangkan hati seorang wanita. Kadang aku bertanya, apa aku punya hati? Karena terasa hampa. Aku tidak bisa merasa apapun.

Perasaan ini terus mengganggu. Perasaan bersalah membuat Krystal menangis. Menunggu sekian lama. Dan aku tetap tidak bisa mencintainya seperti yang dia lakukan. Aku manusia seperti apa? Kenapa sulit sekali rasanya memulai kembali.

"Seharusnya kau pergi membawa aku waktu itu, Re." Aku bergumam sendiri. "Aku tidak tahu akan begitu sulit menjalani sesuatu seperti ini."
"Katamu aku pasti bisa bahagia. Aku bisa memulai kehidupan yang baru. Tapi kenapa kenangan mu tidak membiarkannya?" Lelaki tidak menangis. Mungkin mataku hanya kemasukan debu. Perih. Lalu air mataku mengalir. "Ada wanita yang menunggu ku mencintainya. Kami bertemu beberapa waktu yang lalu. Cukup lama. Dia baik. Dia suka tertawa. Tapi aku tahu dia sendirian. Aku tahu dia penyendiri dan sedih..."
"Jangan salahkan aku karena membuat seorang wanita menangis, Re. Salahmu kau meninggalkan ku setelah semua perasaanku terkuras habis untukmu."
Aku tertawa.
"Ah. Maafkan aku. Aku tidak menyalahkan mu atau penyakit sialanmu itu. Aku tidak bisa bernegosiasi dengan Tuhan untuk nyawa-mu karena itu tidak mungkin. Sekarang aku pun tidak bisa bernegosiasi dengan hatiku untuk sepenuh hati menerima seseorang yang baru..."
"Bisakah aku bersama mu saja?"
Bodohnya aku masih menangisinya setelah bertahun berlalu. Seandainya aku bisa seperti orang lain. Melupakan dengan mudahnya. Aku beberapa kali membuat kepala ku terluka hanya berharap aku bisa amnesia dan lupa segala yang terjadi. Tapi mungkin Re selalu meminta Tuhan untuk menyelamatkan ku terus menerus. Atau menyiksa ku... Aku tidak tahu mana yang di katakan sisi baik dari cerita hidupku ini. Seorang yang ingin ku lindungi segenap hati dan kekuatanku tidak lagi bersamaku. Sekarang ada seorang wanita yang seperti berteriak memintaku untuk menyelamatkannya dari jurang kesendirian. Tapi bagaimana aku melakukannya sedangkan aku berada di dasarnya?
"Re, bisakah kau katakan kepada Tuhan untuk memberikan Krystal lelaki yang lebih baik dan lebih mampu mencintainya dari pada dia membuang waktu mengharapkan aku. Aku rasa ucapanmu akan di dengar-Nya. Karena aku tahu kau berada di dekat-Nya saat ini."
"Namanya Krystal, Re. Aku yakin kau akan bilang 'nama yang bagus!' Kau ramah dan selalu hangat pada siapapun. Cepat berteman dengan siapapun. Begitulah kita berdua bertemu. Kehangatanmu juga yang menyapaku terlebih dahulu. Walaupun aku cukup terlambat mengatakannya, kau tahu bahwa kau kebahagiaanku ... Rasanya ingin mati...."

Tuesday, 5 November 2019

A Poem #5 : Sunyi

Apa yang lebih menyeramkan selain keheningan? 
 Ketika kau terlalu sepi, Sesuatu berteriak lebih kuat dari dalam.
 Rasanya tak masuk akal,
 Tapi itu ada.
 Rasanya kau lebih takut kepada dirimu sendiri daripada orang lain.
 Mungkin kau tidak akan merusak nadimu.
 Tapi kau merusak pikiranmu.
 Itu pun kejam.

- (n.c)

Sunday, 3 November 2019

A Short Story #1 : Sad Lovers



One day I felt very sad and I didn't know how to express it, I wrote a fictional short story and post it on twitter. Here it is :
Ini cerita tentang satu orang yang ku sukai. Teman ku. Seseorang yang aku kenal. Dia mengenal aku juga. Ya, paling engga dia tahu namaku. Dan aku tahu namanya. Bukankah itu namanya saling mengenal? Aku mengenalnya dari teman-teman ku ketika kami sedang berkumpul merayakan ulang tahun Hera.

Dia tampan. Pikirku. Pendiam. Engga seperti teman-temannya yang lain. Mata yang sendu, anehnya sungguh menawan.



"Ayo dimakan dong kue-nya. Masa di liatin aja!!" Ucap Hera sambil menyenggolku yang terlalu fokus memperhatikan... Hmm sekeliling. Kurasa.
"Aku udah makan mau 3 kali malah, tawarin ke yang lain aja ah..." Apakah benar aku makan 3 kali kuenya? Aku juga engga sadar. Entahlah.  
"Aku baru tahu kamu ngundang FJ kesini. Emangnya kenal?" Ini kesempatan yang baik untuk sekedar basa-basi tanya ke Hera tentang FJ.
Siapa FJ? Nanti aja aku kasih tahu namanya. Sekarang kita hanya akan memanggilnya FJ.


"Ya kenal lah!" Jawab Hera sambil tertawa aneh. Apa aku yang aneh karena menanyakan ini? "Dia kan satu SMA sama aku. Satu kelas malah. Pokonya gank lah!" Lanjut Hera.
"Oh. Dia sekolah di SMA kamu juga? Kok aku baru tahu ya..." -- apa apaan ini respon ku? Aneh!!
"Ingat engga acara akhir tahun kampus 2017 lalu, kan aku undang dia sama bandnya buat isi acara kita... Pas banget abis kamu nampil band dia yang naik..." Cerita Hera sambil berusaha mengingat dengan baik.
"Hmmm.... Setelah aku?" Ok. Mari berusaha mengingat!? -- setelah aku.... Setelah aku....
"Oh band yang namanya aneh itu?" Aku ingat. "Apa yaa..." Ternyata tidak begitu ingat.
"We want to grow old..." Ujar Hera sambil memotong kuenya untuk teman-teman lain. Aku paham kita semua ingin semakin dewasa. Mugkin itu maksudnya dengan kata 'old'. Mungkin?
"Apa...?" Tanyaku bingung.
"Nama band-nya We want to grow old..." Ternyata itu nama band FJ yang super aneh. Tapi lucu.

Cerita demi cerita ternyata band mereka itu memang dari SMA sudah seperti itu namanya. Dan sampai sekarang personilnya tetap. Engga kayak aku ganti sana sini.



Aku punya band andalan di kampus ku. Dan satu-satunya personil wanitanya hanya aku. Tapi sekarang mereka lagi sibuk skripsi. Jadinya aku sepertinya harus berlibur main band. Mau gimana lagi?



********